Asap yang Datang Pelan-Pelan; Bagaimana dengan Lahannya?!

Beberapa hari ini, udara terasa sedikit berbeda.

Tidak langsung pekat, tidak juga sampai membuat orang berhenti beraktivitas. Jalanan masih ramai, warung kopi tetap penuh, dan aktivitas berjalan seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan terasa berubah.

Seperti ada lapisan tipis di udara. Tidak selalu terlihat, tapi cukup untuk disadari.

Dan entah kenapa, kondisi seperti ini selalu terasa familiar. Bukan karena sering dibicarakan, tapi karena pernah dialami. Bahkan mungkin terlalu sering.

Di beberapa titik, orang mulai bicara soal kemungkinan datangnya El Niño dalam beberapa bulan ke depan. Kemarau yang lebih panjang, kondisi yang lebih kering, dan risiko kebakaran yang meningkat.

Sebenarnya, ini bukan hal baru.

Polanya sudah berulang. Waktunya bisa diperkirakan.
Dampaknya pun sudah pernah dirasakan.

Tapi tetap saja, setiap kali mulai terasa, kita seperti kembali ke titik yang sama.

Menunggu.

Dan sedikit banyak, membiarkan.

Asap datang, pelan-pelan.
Lalu kita menyesuaikan.

Seolah-olah ini bagian dari sesuatu yang tidak bisa dihindari. Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak semuanya datang begitu saja. Ada hal-hal yang sebenarnya bisa diperkirakan.

Bahkan mungkin bisa dicegah. Tapi, selalu terulang.

Catatan Reflektif: Pola, Ruang, dan Tanggung Jawab yang Tidak Sepenuhnya Sama

Fenomena seperti El Niño sering disebut sebagai pemicu utama kondisi kering yang berujung pada kebakaran lahan. Dalam banyak kasus, ia memang memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran. Tapi dalam konteks wilayah seperti Rasau Jaya, persoalannya tidak sesederhana itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran tidak terjadi secara acak. Ia cenderung mengelompok dan berulang di lokasi yang sama seperti di Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya Tiga, dan Pematang Tujuh. Ruang-ruang ini memiliki karakter yang serupa: perkebunan rakyat, tegalan, dan kawasan gambut yang secara ekologis memang lebih rentan. Artinya, ketika kondisi kering datang, api tidak benar-benar “mencari” tempat baru. Ia kembali ke ruang yang sama.

Di titik ini, kebakaran tidak lagi bisa dilihat hanya sebagai peristiwa alam. Ia adalah pertemuan antara kondisi iklim dan kondisi ruang yang sudah lebih dulu rentan. Yang menarik, ada perbedaan yang cukup jelas dalam pola tersebut. Lahan dengan penguasaan yang relatif jelas cenderung lebih terkendali. Sementara lahan-lahan yang tidak memiliki kejelasan status justru lebih sering muncul sebagai titik api. Di sinilah persoalan tanggung jawab menjadi tidak sederhana.

Kebakaran memang sering disebut sebagai tanggung jawab bersama. Tapi dalam praktiknya, tidak semua pihak memiliki kendali yang sama terhadap ruang.

Ada yang terdampak.
Ada yang memanfaatkan.
Dan ada yang memiliki serta mengelola dalam skala lebih besar.

Dalam konteks ini, tanggung jawab seharusnya tidak berhenti pada istilah “bersama”, tetapi menjadi lebih proporsional. Semakin besar kendali terhadap lahan, semakin besar pula tanggung jawab yang seharusnya melekat. Karena ketika kebakaran terjadi, dampaknya tidak berhenti di satu bidang lahan. Asapnya menyebar, melampaui batas kepemilikan, dan masuk ke ruang hidup yang lebih luas.

Sebenarnya, banyak hal dalam persoalan ini sudah bisa diperkirakan.

Kapan risiko meningkat.
Di mana kebakaran paling sering terjadi.
Dan pada jenis lahan seperti apa ia berulang.

Selama kondisi ruang yang rentan itu tidak berubah, selama pengelolaan lahan belum sepenuhnya bertanggung jawab, dan selama penegakan kebijakan belum berjalan konsisten, maka pola yang sama akan terus berulang.

Asap mungkin datang karena musim. Tapi ia bertahan karena ruang yang tidak cukup dijaga.

Komentar

Postingan Populer